Selasa, 29 Maret 2011

TEORI BELAJAR BAHASA INDONESIA


  1. Pengertian Pembelajaran Bahasa
Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar komunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pebelajar dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulis (Depdikbud, 1995). Hal ini relevan dengan kurikulum 2004 bahwa kompetensi pebelajar bahasa diarahkan ke dalam empat subaspek, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Oleh karena itu, setiap pengajar harus memiliki keterampilan dalam memilih strategi pembelajaran untuk setiap jenis kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, pemilihan strategi pembelajaran yang tepat dalam kegiatan pembelajaran, diharapkan pencapaian tujuan belajar dapat terpenuhi.
Gilstrap dan Martin (1975) menyatakan bahwa peran pengajar lebih erat kaitannya dengan keberhasilan pebelajar, terutama berkenaan dengan kemampuan pengajar dalam menetapkan strategi pembelajaran. Sedangkan tujuan pembelajaran bahasa, menurut Basiran (1999) adalah keterampilan komunikasi dalam berbagai konteks komunikasi. Kemampuan yang dikembangkan adalah daya tangkap makna, peran, daya tafsir, menilai, dan mengekspresikan diri dengan berbahasa. Kesemuanya itu dikelompokkan menjadi kebahasaan, pemahaman, dan penggunaan.
Uraian di atas sudah jelas bahwa pembelajaran bahasa pada anak didik atau pembelajar yang ditransformasikan oleh guru meliputi empat aspek yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Proses guru sendiri dalam mensransformasikan materi atau bahan untuk membantu siswa dalam menguasai atau mempelajari keempat aspek tersebut diserakan kepada guru sepenuhnya. Sehingga, sebagai guru dan calon guru sedini mungkin sudah harus diperkenalkan untuk berfikir kritis dan inovatif dalam mencari metode serta bahan ajar yang akan di sampaikan kepada paserta didik atau anak didik sesuai dengan tahap perkembangannya.
Pemilihan bahan ajar serta metode yang digunakan bervariasi sesuai dengan minat serta kemampuan yang dimiliki siswa. Misal untuk mengajarkan anak SD kelas VI berbeda dengan metode mengajar anak kelas V walaupun materi pokok yang diajarkan sama. Bagi siswa kelas VI belajar berpidato sudah dapat dilakukan tanpa teks, sedangkan anak kelas V masih boleh menggunakan teks. Hal ini dilakukan agar setiap siswa mempunyai kompetensi pembelajaran yang meningkat seiring dengan perkembangan mental anak.

  1. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Pahasa
Belajar bahasa akan lebih baik apabila: Peserta didik atau pebelajar mampu menilai pengalaman sendiri atau menilai orang lain. Pebelajar terlibat dalam pengembangan tujuan dan telah mengembangkan cara teratur untuk memusatkan pada pengolahan informasi. Selain itu pebelajar mengandalkan observasi sebagai pengalaman. Pengalaman itu dapat berupa apa yang ia dapat sendiri atau dapat juga dari apa yang ia dengar dan ia lihat dari sekelilingnya. Dari pengalaman-pengalaman tersebut anak dapat menilai baik dan buruknya semua yang dilihatnya bagi perkembangan mental dan intelegtency seorangt anak.
Fokus pada kegiatan belajar dengan serangkaian gambaran dan perasaan yang teratur dalam proses belajar membantu siswa dalam memahami suatu masalah sehingga apa yang ingin disampaikan oleh pengajar diterima secara maksimal oleh peserta didik.  Sebagai contohnya dalam proses pembelajaran seorang guru menjelaskan materi pelajaran mengenai membaca dalam hati maka untuk memfokuskan agar penjelasan guru tidak melenceng setelah guru memberikan materi mengenai membaca dalam hati siswa diberikan tugas untuk membaca dalam hati dengan baik dan benar.
Telah menemukan standar dan tujuan dari orang lain dimaksudkan bahwa dalam menstranformasikan ilmu kepada pebelajar seorang guru tidak dapat berdiri sendiri. Tetapi juga membutuhkan bentuan alat atau saran dari orang lain dalam memilih media yang sesuai dengan karakter peserta didik. Diharapkan dengan metode dan media yang tepat atau pas siswa dapat memahami materi pelajaran secara maksimal. 
Dalam proses belajar hendaknya siswa agar tidak terlalu dirangsang atau mengalami tekanan atau kecemasan berat karena hal itu tidak akan berdampak baik tetapi sebaliknya yaitu anak menjadi down dan dapat memicu menurunnya intelegency atau yang di sebut dengan IQ.
Mampu memproses informasi dengan berbagai metode dan belajar (bagaimana belajar). Dengan penggunaan bahan belajar relevan dengan masa lalu dan sekarang diharapkan informasi baru yang disajikan melalui pancaindera dan pengalaman dengan ulangan dan variasi tema yang cukup dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada siswa atau peserta didik.
Selain uraian diatas terdapat 5 prinsip belajar lainnya yaitu:
a.       Prinsip 1. Mengetahui apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan minat belajar bahasa yaitu seorang guru harus menyelami dan mengetahui karakter setiap siswa dalam satu kelas agar guru dapat mencari metode dan cara belajar yang tepat sesuai dengan apa yang diinginkan siswa. Cara ini selain dapat meningkatkan hasil belajar juga dapat membantu guru dalam memberikan materi pembelajaran karena dengan mudah dapat diserap dan dipahami siswa secra maksimal.

b.      Prinsip 2. Keterpaduan keterampilan berbahasa keterampilan disajikan secara terpadu seperti dalam kehidupan nyata. Keterampilan ini seperti pemberian materi pelejaran yang pemberian contohnya disesuaikan dengan apa yang sedang berkembang dan menjadi sorotan anak didik.  Keterpaduan ini selain menarik juga membuat siswa tidak bosan dalam mengikuti proses pembelajaran.

c.       Prinsip 3. Belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi. Komunikasi ini diciptakan situasi yang mendorong terjadinya komunikasi dan interaksi dengan kegiatan yang ada kesenjangan informasinya (information gap). Komunikasi yang dibangun dan diterapkan oleh guru kepada nak didik hendaknya dimulai dari apa yang siswa atau anak didik minati. Dari itu pendidik dapat bertukar pikiran dengan baik dan selanjutnya komunikasi yang terjalin ini dapat mempermudah guru mengetahui kesukaran/kesulitan siswa dalam belajar.

d.      Prinsip 4. Pentingnya kebermaknaan dalam pengajaran. Kebermaknaan berdasarkan konteks, baik konteks kebahasaan maupun konteks situasi. Kegiatan pembelajaran akan lebih bermakna bagi siswa jika hal itu berhubungan dengan kebutuhan, pengalaman, minat, tata nilai, dan masa depannya.Dalam penerapan prinsip ini, guru dituntut memiliki kemampuan berbahasa yang memadai dan memiliki berbagai keterampilan menyajikan bahan secara komunikatif

e.       Prinsip 5. Belajar dengan melakukan atau praktek hal ini dilakukan agar Guru menyiapkan bahan, menciptakan situasi dan kegiatan yang beragam untuk mendorong siswa berperan secara aktif belajar bahasa, bukannya mengetahui teori-teori atau ilmu tentang bahasa. Pengaplikasian materi belajar dengan metode ini mengakibatkan siswa kan terdorong untuk selalu mengikuti serta berantusias dalam proses pembelajaran.

  1. Cakupan Pembelajaran Bahasa
1.      Menyimak
Mendengarkan ialah mengarahkan perhatian dengan sengaja kepada suatu suara, atau menangkap pikiran orang berbicara dengan alat pendengaran kita, dengan tepat dan teratur. Mendengar dan mendengarkan itu berbeda.
Untuk mendengarkan dengan baik kita harus:
            a. Mengerti akan kata-kata yang dipakai,
            b. Memahami dan mengenal bentuk kalimatnya,   
            c. Menangkap isi dan maksud percakapan itu dengan teratur.

Tujuan pembelajaran menyimak:
a.       Siswa memiliki keterampilan memahami dari segi kognitif.
b.      Siswa memiliki keterampilan mendengarkan ucapan orang lain.
c.       Siswa dapat menangkap pokok pembicaraan orang lain.
d.      Siswa mampu membedakan ide yang satu dengan lainnya

2.      Berbicara
Yang dimaksud dengan berbicara ialah melahirkan pikiran dan perasaan yang teratur dengan memakai bahasa lisan.
Adapun tujuan pengajaran berbicara antara lain:
1.      Melatih siswa melahirkan isi hatinya (pikiran, perasaan, dan kemauannya) secara lisan dengan bahasa yang teratur dan kalimat yang baik.
2.      Memperbesar dorongan batin akan melahirkan isi hatinya.
3.      Memupuk keberanian berbicara pada anak-anak.
4.      Menambah perbendaharaan bahasa anak.
5.      Dari sudut psikologi humanismenya adalah memberikan kesempatan pada anak untuk menyatakan dirinya.

3.      Membaca
Membaca adalah mengarahkan siswa untuk dapat mengetahui sesuatu dengan cara langsung mencari / membaca sendiri dalam buku. Melatih siswa menangkap arti bacaan itu dalam waktu yang singkat. Melatih siswa belajar sendiri, untuk memperoleh pengetahuan (nilai praktis).
Membaca dengan teknik yang baik tidak hanya soal gerakan mata (soal lancar), tetapi meliputi pula tepatnya lagu, tekanan, dan lafalnya. Dengan demikian, tujuan membaca teknik dapat kita simpulkan sebagai berikut:
a.       Mengajarkan/melatih membaca dengan lancar dan jelas, dengan jalan:
1        membuat lompatan-lompatan mata yang besar.
2        mengurangi lompatan-lompatan balik.
3        memperhatikan isi bacaan sehingga proses asimilasi berlangsung dengan baik.
b.      Mengajar membaca dengan tepat. (Ini juga dipengaruhi proses asimilasi).
c.       Mengajar membaca dengan lagu yang tepat (seperti orang bercakap-cakap), tanda baca menunjukkan jalannya.
d.      Mengajar membaca dengan ucapan yang tepat (lafal harus jelas).

Tujuan membaca
a.       Meningkatkan  kecepatan pemahaman siswa
b.      Memperbaiki kemampuan membaca oral /lisan
c.       Meningkatkan kemampuan apresiasi sastra (menghargai, menggauli, dan menilai karya sastra)
d.      Meningkatkan minat baca

4.      Menulis
Menulis adalah kegiatan mengarahkan siswa agar dapat terampil dalam menyusun/ memakai bahasa Indonesia dengan baik. Hal ini bertujuan agar siswa dapat aktif dalam mempelajari pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Tujuan pengajaran menulis
a.       Siswa mampu menyusun karangan
b.      Siswa mampu menggunakan kaidah bahasa
c.       Siswa mampu berimajinasi

  1. Landasan Teori Belajar Bahasa
1. Teori Behavioristik
Bapak behavioristik yang terkenal di Amerika yaitu John B. Watson (1878 – 1958). Bahasa merupakan bagian fundamental dari keseluruhan perilaku manusia. Teori behavioristik memumpunkan perhatiannya pada aspek yang dirasakan secara langsung pada perilaku berbahasa serta hubungan antara stimulus dan respons pada dunia sekelilingnya. Seorang berhavioris menganggap bahwa perilaku berbahasa yang efektif merupakan hasil respon tertentu yang dikuatkan, respons itu akan menjadi kebiasaan. (contoh: Anak yang minta susu pada ibunya oleh ibu diberi susu) maka hal ini apabila selalu dituruti oleh ibu, sang anak akan minta susu dengan cara seperti itu terus.  Pernyataan ini diteliti oleh Skinner yang dikenal dengan teorinya belajar disebut operant conditioning. Konsep ini mengacu pada kondisi di mana manusia/binatang mengirimkan respons /oprerant (ujaran/kalimat) tanpa ada stimulus yang tampak. Operant  itu dipertahankan dengan penguatan.
Pendapat Skinner ditentang ogzleh Noam Chomsky (1959), tetapi pada tahun 1970, Kenneth Mac Corquadale memberikan jawaban atas kritikan Chomsky. Beberapa linguis dan ahli psikologi sependapat dengan Skinner bahwa model Skinner tentang perilaku berbahasa dapat diterima secara memadai pada kapasitas memperoleh bahasa, perkembangan bahasa, hal bahasa,dan teori makna.
Ahli Psikologi mengusulkan modifikasi teori behaviorisme, contohnya terori modifikasi yang dikembangkan dari teori Pavlov, yakni teori kontiguitas. Misalnya pengertian makna, dipertanggungjawabkan dengan pernyataan bahwa rangsangan kebahasaan (kata/kalimat) memancing respons mediasi, yakni swastikulasi.
Charles Osgood menyebut swastimulasi sebuah proses mediasi representasional, yakni proses yang tidak tampak yang bergerak dalam diri pembelajar. Teori mediasi menjelaskan hakikat bahasa dengan makna berbau mentalisme. Dalam teori mediasi masih terdapat pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, hakikat bahasa dan hubungan integral antara makna dan ujaran tak terpecahkan
Pendukung teori behaviorisme yang lain adalah Jenkins dan Palermo (1964). Mereka mensitesiskan linguistik generatif dengan pendekatan mediasi untuk bahasa anak. Anak memperoleh kerangka tata bahasa struktur frase dan belajar ekuivalensi stimulus respons yang dapat diganti dalam tiap kerangka.
Teorinya Jenkis dan Palermo mengalami kegagalan untuk menjelaskan hakikat bahasa yang abstrak. Pendapat ahli psikologi behaviorisme yang menekankan pada observasi empirik dan metode ilmiah hanya dapat mulai menjelaskan keajaiban pemerolehan dan belajar bahasa dan ranah kajian bahasa yang sangat luas masih tak tersentuh.

2. Teori Generatif
a.      Teori Nativisme
Teori nativisme dihasilkan dari pernyataan bahwa pembelajaran bahasa ditentukan oleh bakat. Lenneberg (1967) menyatakan bahwa bahasa itu merupakan perilaku khusus manusia dan cara pemahaman tertentu, pengkategorian kemampuan,dan mekanisme bahasa yang lain ditentukan secara biologis. Teori Nativisme Chomsky dalam Hadley (1993: 48) yang merupakan tokoh utama golongan ini mengatakan bahwasannya hanya manusialah satu-satunya makhluk Tuhan yang dapat melakukan komunikasi lewat bahasa verbal. Chomsky juga menyatakan bahwa setiap anak yang lahir ke dunia telah memiliki bekal dengan apa yang disebutnya “alat penguasaan bahasa” atau LAD (Language Acquisition Device).  McNeill mendeskripsikan LAD menjadi empat bakat bahasa. Kemampuan membedakan bunyi ujaran dengan bunyi yang lain dalam lingkungannya Kemampuan mengorganisasikan peristiwa bahasa ke dalam variasi yang beragam. Pengetahuan adanya sistem bahasa tertentu yang mungkin dan sistem yang lain yang tak mungkin. Kemampuan untuk tetap mengevaluasi sistem perkembangan bahasa yang membentuk sistem yang mungkin dengan cara yang paling sederhana dari data kebahasaan yang diperoleh. Tata bahasa anak mengacu pada tata bahasa tumpu (pivot grammar). Ujaran anak satu dua kata mula-mula merupakan perwujudan dua kelas kata terpisah dan bukan dua kata yang dilempar bersama. Kalimat –kata tumpu +kata terbuka.
Sumbangan teori nativisme:
1.      Bebas dari keterbatasan dari metode ilmiah untuk menjelajah sesuatu yang tak tampak, tak dapat diobservasi, berada di bawah permukaan yang tersembunyi, struktur kebahasaan yang abstrak yang dikembangkan anak.
2.      Deskripsi bahasa anak sebagai sistem yang sah, taat kaidah, dan konsisten. Bahasa anak pada tiap tahap itu sistematik, artinya anak secara berkelanjutan membentuk hipotesis dasar dengan masukan yang diterimanya dan menguji kebenarannya. Hipotesis tersebut terus direvisi, dibentuk lagi, atau kadang dipertahankan.
3.      Konstruksi sejumlah kekayaan potensial dari tata bahasa universal.

b.      Teori Kognitifisme
Slobin (1971) mengatakan bahwa dalam semua bahasa, belajar semantik bergantung pada perkembangan kognitif. Urutan perkembangan itu ditentukan oleh kompleksitas semantik daripada kompleksitas struktural.
Bloom (1976), penjelasan perkembangan bahasa bergantung pada penjelasan kognitif yang terselubung. Apa yang diketahui anak menentukan kode yang dipelajarinya untuk memahami pesan dan menyampaikannya.

3.  Teori Konstruktivisme
Peneliti bahasa melihat bahasa merupakan manifestasi kemampuan kognitif dan efektif untuk dapat menjelajah dunia, untuk berhubungan dengan orang lain, dan untuk keperluan diri sendiri sebagai manusia.
a.       Kognisi dan perkembangan bahasa
Pieget menggambarkan perkembangan sebagai hasil interaksi anak dengan lingkungannya, dengan interaksi komplementer antara perkembangan kognitif perseptual dengan pengalaman bahasa mereka. Penjelasan tentang perkembangan bahasa anak tergantung pada penjelasan faktor kognitif yang menjadi penyangga bahasa. Apa yang diketahui anak menentukan apa yang mereka pelajari tentang kode bahasa.
Slobin menyatakan bahwa semua bahasa belajar makna yang tergantung pada perkembangan kognitif dan urutan perkembangannya lebih ditentukan oleh kompleksitas makna itu daripada kompleksitas bentuknya. Interaksi sosial dan perkembangan bahasa disekitar pebelajar akan berpengaruh dalam perkembangan kognitif karena disesuaikan dengan jenjang uusia anak.
Bahasa pada hakikatnya digunakan untuk komunikasi interaktif. Dalam perspektif ini, jantung bahasa, fungsi pragmatik dan komunikatif dikaji. Seperti contohnya seorang anak dapat memahami apa yang disampaikan oleh lawan bicara jika si anak mengetahui dan dalam konteks social yang sama dengan pembicara maka masalah yang disampaikan akan jelas diterima oleh sang anak.

  1. Faktor Pendukung Pembelajaran Bahasa
1        Filter Afektif
Filter afektif digunakan untuk menyaring segala sesuatu yang merupakan masukan dari sekitar pembelajar. Yang termasuk filter afektif adalah motivasi pembelajar, sikap pembelajar, dan keadaan emosi pembelajar.
Filter afektif digunakan untuk menentukan:
a.       Model bahasa sasaran yang dipilih pembelajar;
b.      Bagian bahasa yang harus dikuasai lebih dahulu;
c.       Kapan upaya belajar harus mengalami masa tenang
d.      Seberapa cepat pembelajar dapat memperoleh bahasa.
Lingkungan sosial mempengaruhi penyaringan,misalnya adanya tuntutan untuk menggunakan bahasa asing dalam komunikasi sehari-hari menuntut siswa untuk belajar bahasa asing tersebut.
Faktor Penentu Filter Afektif
    1. Percaya Diri
Keberhasilan kognitif atau afektif ditentukan oleh derajat kepercayaan diri dan derajat kesadaran akan kemampuan sendiri.
Ada korelasi positif antara rasa percaya diri dengan kemampuan anak belajar bahasa. semakin tinggi percaya diri anak, semakin tinggi pula kinerja belajar bahasa.

    1. Hambatan (inhibisi)
Dalam pembelajar bahasa, Guiora (1927) memperkenalkan ego bahasa, yakni hakikatnya pembelajaran bahasa  sangat personal dan egoistis.
Seorang guru harus dapat menurunkan inhibisi secara bermoral supaya pembelajaran berhasil dengan baik. Obat penawar dalam mengatasi ketakutan belajar bahasa adalah menciptakan kerangka afektif yang layak sehingga pembelajar merasa nyaman ketika menggunakan atau belajar bahasa tanpa rasa takut untuk menjadi malu karena ditertawakan guru/teman.
Kesalahan jangan ditertawakan apalagi dihujat. Siswa harus dirangsang untuk percaya diri untuk dapat bereksperimen dan bereksplorasi serta berani mengambil risiko dalam belajar bahasa. Semakin berani mengambil risiko dalam belajar bahasa akan berdampak positif dalam pemerolehan pelajaran.

    1. Kecemasan
Konsep yang berhubungan dengan inhibisi, rasa percaya diri, dan pengambilan resiko adalah kecemasan dalam pembelajaran bahasa. kecemasan adalah perasaan tidak nyaman, frustasi, ragu, dan khawatir.
Macam kecemasan:
         Kecemasan paling dalam/global (kecemasan permanen).
         Kecemasan momentaris/situasional.
Tiga komponen kecemasan belajar bahasa kedua:
1.      Komunikasi dan pengertian, yang muncul dari ketidakmampuan pembelajar untuk mengeskpresikan secara layak pemikiran/ gagasan yang matang.
2.      Takut akan ekuivalensi sosial yang negatif, muncul dari kebutuhan untuk  membuat kesan sosial yang positif.
3.      Tes kecemasan, atau pengertian akan evaluasi akademik.

    1. Motivasi
Motivasi merupakan insentif, kebutuhan, atau keinginan yang dirasakan pembelajar bahasa untuk belajar.
Jenis-jenis motivasi:
1.      Motivasi integratif
Motivasi integratif adalah keinginan untuk berperan serta di dalam kehidupan masyarakat yang menggunakan bahasa yang dipelajari pembelajar.

2.      Motivasi instrumental
Motivasi instrumental adalah keinginan untuk menggunakan bahasa karena alasan praktis, misalnya pekerjaan.

3.      Indentifikasi kelompok sosial
Pembelajar ingin mengidentifikasi dirinya sebagai bagian anggota masyarakat

2        Organisator
Organisator merupakan bagian dari pikiran pembelajar bahasa yang bekerja secara subsadar untuk mengorganisasikan sistem bahasa. Organisator digunakan oleh pembelajar untuk menghasilkan kalimat yang dipelajari melalui hafalan. Organisator adalah faktor yang bertanggung jawab atas pengorganisasian sistem bahasa yang dipelajari yang dikerjakan secara gradual.
Bukti bahwa sesorang dalam belajar bahasa menggunakan organisatornya tampak pada kesalahan yang dibuat pembelajar. Contohnya:
1.      Anak-anak sering menghilangkan awalan/akhiran, menghilangkan subjek, menghilangkan kata depan, menambahkan kata depan yang tak perlu, membuat penanda ganda, salah urutan kalimat, dsb.
Ayah kerja jadi guru.
Bagi yang kehilangan uang supaya lapor bu guru.
Demi untuk negara, saya harus berkorban.

3        Monitor
Monitor merupakan bagian sistem internal pembelajar yang secara sadar memproses informasi. Monitor merupakan bagian sistem internal pembelajar yang bertanggung jawab terhadap proses kebahasaan secara sadar (belajar(Krashen)).
Pembelajar menggunakan pengetahuan kebahasaannya untuk memformulasikan, membetulkan, atau menyunting secara sadar tuturannya sendiri.
Derajat penggunaan monitor ditentukan oleh
1.      Umur pembelajar (perkembangan kognitifnya),
2.      Jumlah pengajaran formal yang diperoleh pembelajar.
3.      Hakikat dan pumpunan yang diminta oleh tugas verbal dilakukan
4.      Kepribadian pembelajar
Seperti contoh bagi pembelajaran anak SD kelas I yang kira-kira umur pembelajar ± 6 tahun dengan jumlah pengajaran yang sedikit. Maka proses pembelajaran diberikan dengan metode yang ceria atau dengan metode yang santai dan menyenangkan agar siswa selain dapat memahami materi yang diajarkan juga menyenangi materi yang disampaikan oleh guru.

  1. Beda Pemerolehan dengan Pembelajaran
1        Pemerolehan
a.       Sebagian besar terjadi pada diri anak-anak
b.      Tidak direncanakan
c.       Tidak ada metode
d.      Alami  /tidak dibuat-buat
e.       Tidak ada target
f.       Tidak ada kurikulum
Jadi dapat disimpulkan bahwa pemerolehan diperoleh seorang anak diluar substansi pendidikan. Karena diluar substansi pendidikan tidak ada perencanaan yang matang, tidak ada metode yang khusu dalam memberikan materinya, proses yang dilakukan dan apa yang diperoleh pun berjalan secara alami dan tidak dibuat-buat.
Pemerolehan dapat dialami oleh siapa saja, kapan saja dan dimana saja.  Seperti misalkan pada perkembangan anak usia didi yaitu 1-2 tahun ketika si anak mulai belajar berbicara ia akan belajar dari sekelilingnya tau dapat juga mendapat dari orang tuanya untuk memanggil ibu walaupun sangat mungkin anak itu belum mengerti apa itu ibu, pasti anak itu akan memanggil ibu kepada ibunya.

2        Pembelajaran
a.       Terjadi pada orang dewasa
b.      Direncanakan
c.       Diciptakan metode tertentu
d.      Direkayasa/dirancang
e.       Dirancang kurikulumnya
f.       Ada target yg akan dicapai
Pembelajaran ini kebalikan dari pemerolehan, jika pemerolehan diperoleh diluar substansi pendidikan maka pembelajaran diperoleh didalam substansi pendidikan.  Didalam substansi atau lembaga pendidikan semua materi dan apa yang akan disampaikan oleh guru sudah direncanakan terlebih dahulu. Dalam pembelajaran ini semua hal lebih terprogram dan tersruktur sesuai dengan jenjang pendidikan yang disesuaikan dengan usia maka dibuatlah kurikulum yang sesuai dengan perkembangan peserta didk, dalam penyampaiannya guru pun memiliki rancangan atau sebuah rekayasa yang dapat dipergunakan untuk memperlancar proses pembelajaran. 

1 komentar: