Selasa, 29 Maret 2011

PERBEDAAN ANTARA SINONIM SEMPURNA DAN SINONIM ABSOLUT DALAM KALIMAT



  1. Pendahuluan
Dalam setiap bahasa, termasuk bahasa Indonesia, sering kali kita temui adanya hubungan pemaknaan atau relasi semantic antara sebuah kata atau satuan bahasa lainnya dengan kata atau satuan bahasa lainnya lagi. Hubungan atau relasi kemaknaan ini mungkin menyangkut hal kesamaan makna (sinonimi).
Kesinoniman simetris mutlak atau kesinoniman simetris memang tidak ada dalam perbendaharaan kata bahasa Indonesia. Oleh karena itu, kata-kata yang dapat dipertukarkan begitu saja pun jarang ada atau belum tentu ada. Pada suatu tempat kita mungkin dapat menukar kata mati dan kata meninggal, tapi ditempat lain tidak dapat. Begitu pula kata bunga dan kembang Pada suatu tempat kita mungkin dapat menukar tapi ditempat lain tidak dapat.
Di dalam beberapa buku pelajaran bahasa sering dikatakan bahwa sinonim adalah persamaan kata atau kata-kata yang sama maknanya. Pernyataan ini jelas kurang tepat sebab selain yang sama bukan maknanya, yang bersinonim pun bukan hanya kata dengan kata, tetapi juga banyak terjadi antara satuan-satuan bahsa lainnya.
Mengenai sinonim ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama tidak semua kata dalam bahasa Indonesia mempunyai sinonim. Misalnya kata beras, salju, batu dan kuning pada kata-kata tersebut tidak memiliki sinonim. Kedua ada kata-kata yang bersinonim pada bentuk dasar tetapi tidak pada bentuk jadian. Misalnya kata benar dengan kata betul, tetapi kata kebenaran tidak bersinonim dengan kata kebetulan. Ketiga ada kata-kata yang tidak mempunyai sinonim pada bentuk dasar tetapi memilki sinonim pada bentuk jadian. Misalnya kata jemur tidak mempunyai sinonim tetapi kata menjemur mempunyai sinonim, yaitu mengeringkan, dan berjemur bersinonim dengan berpanas.  Keempat  ada kata-kata yang dalam arti ”sebenarnya” tidak mempunyai sinonim, arti “kiasan” justru mempunyai sinonim seperti pada contoh, kata hitam dalam makna “sebenarnya” tidak ada sinonimnya, tetapi dalam arti “kiasan” ada sinonimnya, yaitu gelap, mesum, buruk dll.
Banyak para ahli yang mengungkapkan bahwa makna sinonim sempurna dan sinonim absolute itu berbeda. Hal itulah yang menyebabkan penulis tertarik menggali lebih jauh apa saja perbedaan antara sinonim sempurna dan sinonim absolute di dalam kalimat. Bagaimanakah perbedaan mengenai dua hal tersebut akan dibahas lebih jelas dalam pembahasan. Setelah menganalisis dan menggali apa yang menjadi perbedaan antara keduanya maka dapat diharapkan masyarakat khususnya para mahasiswa mengetahui bagaimanakah penggunaan sinonim sempurna dan sinonim absolute di dalam kalimat.

  1. Pembahasan
    1. Sinonim
Kata sinonim terdiri dari sin (“sama” atau “serupa”) dan akar kata onim “nama” yang bermakna “sebuah kata yang dikelompokkan dengan kata-kata lain didalam klafikasi yang sama berdasarkan makna umum”. Dengan perkataan lain: sinonim adalah kata-kata yang mengandung makna pusat yang sama tetapi berbeda dalam nilai rasa. Atau secara singkat  sinonim adalah kata-kata yang mempunyai denotasi yang sama tetapi berbeda dalam konotasi.
Contoh:
(1)   Pintar, pandai, cakap, cerdik, cerdas, banyak akal, mahir
(2)   Gagah, kuat, tagap, perkasa, berani, megah, kacak
(3)   Mati, meninggal, berpulang, mangkat, wafat, mampus
(4)   Bodoh, tolol, dugu, goblok, otak udang
(5)   Cantik, molek, baik, bagus, indah, permai
Sinonim tidak hanya menolong kita untuk menyampaikan gagasan-gagasan umum tetapi juga membantu kita untuk membuat pembedaan-pembedaan yang tajam dan tepat antara makna kata-kata itu.
Sekalipun makna kata-kata cantik, molek, bagus, baik,  indah, permai sama, atau semua kata itu bersinonim, kita juga tidak pernah atau tidak wajar mengatakan kalau
·         Wanita itu indah
·         Gadis itu permai
Tetapi
·         Wanita itu cantik
·         Gadis itu molek
Sedangkan Pengertian sinonim menurut Harimuti Kridaklasana ialah bahasa yang maknanya mirip atau sama dengan bentuk lain, persamaan itu berlaku bagi kata, kelompok kata, atau kalimat, walaupan umumnya yang dianggap sinonim hanyalah kata-kata saja (Kridalaksana, 1982:154).
a.       Sinonim dan pengembangan kosakata
Menelah sinonim merupakan  suatu pendekatan yang sangat baik dan juga menghemat waktu bagi telaah kosakata. Memperbandingkan sinonim-sinonim membantu para siswa melihat hubungan antara kata-kata yang besamaan makna. Selain itu juga menolong para siswa menggeneralisasikan serta mengklafikasikan kata-kata dan konsep-konsep.
Pada dasarnya sinonim adalah penggantian kata-kata. Sinonim memberi kita kesempatan untuk mengekspresikan gagasan yang sama dalam berbagai cara, walaupun konteks, latar, suasana hati, dan nada sang pembicara (atau sang penulis) sebagai suatu keseluruhan dapat saja mengendalikan pemilihan sinonim yang akan dipergunakan. Walupun telaah daftar sinonim dapat menolong para siswa untuk mengklafikasikan konsep-konsep umum (seperti; tinggi-rendah, besar-kecil, hidup-mati, tua-muda, pria-wanita, ayah-ibu, kaya-miskin, jauh-dekat, siang-malam, panjang-pendek, terang-gelap), tetapi nilainya yang lebih tinggi adalah dalam pengembangan kemampuan para siswa membuat pembedaan-pembedaan yang tajam antara sinonim yang satu dengan sinonim yang lainnya.

b.       Mendiskripsikan Sinonim
Tak kan dapat dengan mudah membuat deskriminasi yang tajam atau mengadakan pembedaan-pembedaan yang tepat antara satu sinonim dengan sinonim yang lain tanpa pengalaman dan latihan yang cukup memadai. Pemilihan sinonim dan diskriminasi yang tepat akan muncul dengan adanya penerapan yang praktis. Sebagai contoh lain, maka sinonim-sinonim kata mendidik dapat kita daftarkan seperti berikut ini:
Mendidik:    Mengajar
                                    Membimbing
                                    Menyuluh
                                    Menatar
                                    Memimpin
                                    Melatih
                                    Menuntun
Dari keterangan diatas dapatlah kita tarik kesimpulan bahwa: Mendidik, pendidik mengandung nilai rasa “baik” sedagkan mengajar, pengajar mengandung nilai rasa “kurang baik”.
    1. Sinonimi
Secara etimologi sinonimi berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu onoma yang berarti ‘nama’, dan syn yang berarti ‘dengan’. Maka secara harfiah kata sinonimi berarti ‘nama lain untuk benda atau hal yang sama’. Secara semantik Verhaar (1978) mendefinisikan sebagai ungkapan (bisa berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan lain.
Untuk mendefinisikan sinonimi, ada tiga batasan yang dapat dikemukakan. Batasan atau difinisi itu, ialah: (i) kata-kata dengan acuan ekstra linguistik yang sama, misalnya kata mati dan mampus; (ii) kata-kata yang mengandung makna yang sama, misalnya kata memberitahukan dan kata menyampaikan; dan (iii) kata-kata yang dapat disubtitusikan dalam konreks yang sama, misalnya “kami berusaha agar pembagunan berjalan terus”, “kami berupaya agar pembangunan berjalan terus”. Kata berusaha bersisonim dengan kata berupaya.
Zgusta (1971:89) mengatakan, “synonimy: they are words which have diffrent forms but indentical meaning”, sedangkan Verhar (1983: 132) mengatakan, “sinonimi adalah ungkapan (biasanya sebuah kata tetapi dapat pula frase atau malah kalimat) yang kurang lebih sama maknanya dengan suatu ungkapan lain”. Pada definisi yang diungkapkan oleh Verhar, kita melihat adanya penggunaan urutan kata, yang telah sama maknanya. Hal itu memang beralasan, karena kesamaan makna tidak berlaku secara sempurna. Artinya, meskipun maknanya sama, tetapi memperlihatkan perbedan-perbedan, apalagi jika dihubungkan dengan pemakain kata-kata tersebut. Itu sebabnya Lyons (1981:148) membedakan kata sinonim sempurna, dan kata yang bersinonim secara absolut. Suatu kata dikatakan bersinonim secara sempurna apabila kata-kata tersebut mengandung makna deskriftif, ekspresif, dan sosial yang sama, sedangkan suatu kata disebut bersinonim secara absolut apabila kata-kata tersebut mempunyai distribusi yang sama dan bermakna secara sempurna didalam kehadirannya pada semua konteks. Zgusta (1971:89) menggunakan istilah absolute dan near, synonymy, near synonym,s.
Contoh kata hamil dan kata bunting. Kedua kata ini mengandung makna yang sama, tetapi pemakaiannya berbeda. Pemakaian kedua kata ini bergantung pada pembicara dan orang yang diperbicarakan. Tambah pula kata hamil lebih halus pemakaian jika dibandingkan dengan kata bunting. Kita dapat mengatakan “sapi yang sudah hamil”. Atau “sapi saya sudah bunting”. Tetapi sagat janggal apabila orang mengatakan ‘istri bupati telah bunting”. Disini sebenarnya citra tidak terlalu berhubungan dengan wilayah semantik, tetapi hal itu menunjukan kepada kita tentang persamnaan dan perbedaan makna suatu kata.
Jika dua kata atau lebih memilki makna yang sama, maka perangkat kata itu disebut sinonim. Kesamaan makna (sinonim dapat ditentukan dengan tiga cara), yaitu:
a.      Substitusi (penyulihan)
Hal tersebut dapat terjadi bila kata dalam konteks tertentu dapat disulih dengan kata yang lain dan makna konteks tidak berubah, maka kedua kata itu disebut sinonim (Lyons, 1977: 447-450; Palmer, 1976: 63; Ullmann, 1964: 142). Lyons lebih lanjut mengemukakan bila dua kalimat memiliki struktur yang sama, makna yang sama, dan hanya berbeda karena di dalam kalimat yang satu (S1) terdapat kata y, maka x sinonim dengan y.
b.      Pertentangan 
Kata dapat dipertentangkan dengan sejumlah kata lain. Pertentangan itu dapat menghaslkan sinonim. Msalnya: kata berat bertentangan dengan ringan dan enteng di dalam bahasa indonesia. Maka ringan dan enteng disebut sinonim, atau ask ‘bertanya’ bertentangan dengan reply dan answer  di dalam bahasa Inggris.  Maka reply dan answer dsebut sinonim dalam bahasa Inggris (lihat Ullmann, 1964: 143-145; Palmer, 1976: 63).
c.       Penetuan konotasi
Jika terdapat perangkat kata yang memilki makna kognitifnya sama, tetapi makna emotifnya berbeda, maka kata-kata itu tergolong sinonIm, mIsalnya: kamar kecil, kakus, jamban, wc mengacu ke acuan yang sama, tetap konotasinya berbeda (Palmer, 1976: 63).
Makna sebuah kata tergantung pada konteks. Hal tersebut dapat kita perhatikan misalnya kalimat-kalimat berkut:
1)      Saya mau ke rumah bersalin untuk menengok kakak yang baru melahirkan. (jelas kepada kita bahwa kakak pada kalimat tersebut adalah ‘kakak perempuan’ . dan hal tersebut ditentukan oleh konteks kalimatnya.
2)      Suatu kata kadang-kadang berbeda maknanya di dalam berbagai konteks. Perhatikan kalimat berikut di dalam bahasa Indonesia, misalnya:
                                                                                i.            Pagi-pagi benar ia masuk sekolah
                                                                              ii.            Ia masuk angin harus dibawa kedokter.
Kata masuk di dalam bahasa Indonesia pada kalimat (1) dan (2) berbeda maknanya. Kata naik pada kalimat “ ayah naik mobil ke kantor, tidak bermakna memanjat, tetapi “mengendarai”  (naik bersinonim dengan mengendarai).
    1. Pembagian Sinonim
Tiap-tiap ahli bahasa membagi sinonim berbeda-beda bila kita perhatikan mulai dari tahun 1960-an
a.          Penggolongan sinonim menurut pembagian Colliman yang dikutip Ullmann (1964: 142-143) membagi jenis sinonim menjadi sembilan, dan bila kita lihat contohnya di dalam, bahasa Indonesia, sebagai berikut:
1)      Sinonim yang salah satu anggotanya memiliki makna yang lebih umum (generik), bandingkan misalnya: menghidangakn dan menyediakan atau menyiapkan; kelamin dengan seks.
2)      Sinonim yang salah satu anggotanya memiliki unsur makna yang lebih intensif, misalnya: jenuh dan bosan; kejam dan bengis; imbalan dan pahala.
3)      Sinonim yang salah satu anggotanya lebih menonojolkan makna emotif. Misalnya mungil dan kecil; bersih dan ceria; hati kecil dan hati nurani.
4)      Sinonim yang salah satu anggotanya bersifat mencela atau tidak membenarkan. Misalnya: boros dan tidak hemat; hebat dan dahsyat; mengamat-amati dan memata-matai.
5)      Sinonim yang salah satu anggotanya menjadi istilah bidang tertentu. Misalnya  plasenta dan ari-ari; ordonansi dan peraturan; disiarkan dan ditayangkan.
6)      Sinonim yang salah satu anggotanya lebih banyak dipakai di dalam ragam bahasa tulisan. Misalnya: selalu dan senantiasa; enak dan lezat; lau dan lampau; bisa dan racun.
7)      Sinonim yang salah satu anggotanya lebh lazim dipakai di dalam bahasa percakapan. Misalnya: kayak dan seperti; ketek dan ketiak.
8)      Sinonm yang salah satu anggotanya dipakai dalam bahasa kanak-kanak. Misalnya: pipis dan berkemih; mmk dan minum; bobo dan tidur; mam (mamam) dan makan.
9)      Sinonim yang salah satu anggotanya biasa dipakai di daerah tertentu saja. Misalnya: cabai dan lombok; sukar dan susah; lepau dan warung; katak dan kodok; sawala dan diskusi.
b.      Pembagian sinonim dengan mengikuti Palmer (1976: 60-62) sebagai berikut:
1)      Perangakat sinonim yang salah satunya berasal dari bahasa daerah atau bahasa asing dan lainnya, yang terdapat di dalam bahasa umum. Msalnya: konde dan sanggul, domisili dan kediaman, khawatir dan gelisah.
2)      Perangkat sinonim yang pemakaiannya bergantung kepad langgam dan laras bahasaa. Misalnya: dara, gadis, cewek; mati,meninggal dan wafat. Pemakaian kosa kata langgam dan laras bahasa yang berbeda akan menghasilkn kalimat yang tidak apik (ill-formed). Misalnya : “ cewek yang tinggal di rumah besar tu kemarin wafat”.
3)      Perangakat sinonim yang berbeda makna emotifnya, tetapi makna kognitifnya sama. Misalnya: ngerawan dan politikus; ningrat dan feodal.
4)      Perangkat sinonim yang pemakaiannya terbatas pada kata tertentu  (keterbatasan kolokasi. Msalnya: telur busuk,nasi basi, mentega tengik, susu asam, baju apek. Busuk,basi,tengik, asam dan apek memiliki makna yang sama, tetapi tidak dapat saling menggantikan karena dibatasi persandingan yang dilazimkan.
5)      Perangkat sinonim yang maknanya kadang-kadang tumpang tindih. Misalnya: buluh dan bambu; bumbu dan rempah-rempah; bimbang,cemas, dan sangsi; nyata dan kongkret. 
c.         Pembagan sinonim menurut Lyons (1977:441) menjadi empat golongan, yakni:
1)      Sinonim lengkap dan mutlak, msalnya: surat kabar dan koran
2)      Sinonim lengkap dan tidak lengkap, misalnya: orang dan manusia
3)      Sinonim tidak lengkap dan mutlak, misalnya: wanita dan perempuan
4)      Sinonim tidak lengkap dan tidak mutlak, misalnya: gadis dan cewek
Lyons berpendapat bahwa sinonim lengkap terdapat apabila makna kognitif sama dengan makna emotif, sedangkan sinonim mutlak dipakai untuk sinonim yang dapat saling menggantikan (saling menyulih) dalam semua konteks. Lyons dan Ullmann menyatakan bahwa sinonim lengkapa dan mutlak sulit sekali ditemukan.  Palmer (1976: 60-62) menyatakan bhwa hal tersebut terjadi karena dalam suatu bahasa tidak ada alasan untuk mempertahankan dua kata yang maknanya sama.
d.      Pembagian sinonim menurut Verhaar lain halnya dengan pendapat Lyons (1977), Palmer (1976), Ullmann ( 1964), dan Tutescu (1979). Verhaar (1977: 133) dalam bukunya menerangkan bahwa kesinoniman bukan didasarkan pada kesamaan makna saja melainkan juga pada kesamaan informasi. Sebetulnya informasi tidak temasuk analisis dalam ujaran tetapi terletak di luar semantik karena menyangkut segi objektif dari apa yang dibicarakan dengan ujaran itu. Tetapi untuk menetapkan miripnya atau dekatnya makna antara dua ungkapan diperlukan juga semantik.


    1. Mengklasifikasikan Sinonim
Proses klasifikasi seperti yang dapat kita jumpai dalam kamus atau ensiklopedia memberi kesempatan kepada para siswa untuk melihat secara intas kilas aneka ragam sinonim yang dipergunakan untuk mengekspresikan suatu gagasan tertentu. Hal ini justru dapat merupakn suatu pengantar yang efektif dan juga menjadi suatu motivasi yang kuat bagi telaah kamus.
Susunan sinonim yang berencana dan bersistem jelas dapat mendorong para siswa:
a.       Untuk membuat generalisasi; dan
b.      Untuk mengadakan pembedaan-pembedaan antara suatu kata dengan kata lain; yang terlihat jelas dalam pilihan yang berbeda-beda. Tetapi sebenarnya menelah sinon-sinonim lebih daripada sekedar membuat generilasi dan pembedaan-pembedaan tajam. Dalam kegiatan bekerja dengan sinonim-sinonim ini para siswa semangkin terlibat dalam telaah kamus yang efektif, memperhatikan pemakaian kata-kata, nilai rasa atau konotasi, sejarah kata-kata, aneka kias atau majas pada prosa dan puisi, tokoh-tokoh historis dan fiktif, kejadian-kejadian historis dan mutakhir.
Telaah sinonim juga merupakan telaah hubungan kata-kata, dan oleh karena itu juga menyangkut hubunga konsep-konsep. Selanjutnya telaah sinonim pun mencakup pula kualitas-kualitas kognitif, gagasan-gagasan dan emosi-emosi yang halus dan tajam yang mengintari kata-kata tersebut sebagai penafsir dan penterjemah pengalaman-pengalaman.
Bagi Bloomfield, misalnya sinonim mutlak itu tidak pernah ada, alasan Bloomfield, setiap bentuk kebahasaan pada dasarnya selalu memiliki ketetapan dan kekhususan makna sehingga perbedaan fonem pun mengakibatkan adanya perbedaan makn. Pendapat Blommfield bertentangan dengan pendapat dari Jonson dan Macaulay yang justru berpendapat bahwa sinonim mutlak itu sebenarnya ada (Ullman, 1977:144).
Ada empat cara yang dapat digunakan dalam menentukan kemungkinan  adanya sinonim. Keempat cara yang dimaksud adalah:
1)      Seperangkat sinonim itu mungkin saja merupakan kata-kata yang digunakan dalam dialek yang berbeda-beda. Kata pena dan rika dalam bahsa jawa dialek Surabaya memiliki terjemahan dalam bahasa indonesia yang persis sama dengan koen atau kowe dalam bahasa jawa dalek malang. Begitu juga dengan kata cacak dan kakang memiliki terjemahan yang persis sama, yakni “kakak”. Akan tetapi, apabila dalam setiap dialek masing-masing kata tersebut memiliki makna dasar berbeda-bed, kata-kata tersebut tidak dapat ditentukan sebagai sinonim.
2)      Suku kata yang semula dianggap memiliki kemiripan atau kesamaan makna, setelah berada dalam berbagai pemakaian ada kemungkinan membuahkan makna yang berbeda-berbeda. Kata bisa dan dapat, misalnya, meskipun secara leksikal merupakan sinonim, dalam kontekspemakaian saya nantibisa datang dan saya nanti dapat datang tetap pula dianggap sinonim. Sewaktu berada dalam konteks pemakaian bisa ular itu berbahaya, kedua kata tersebut tidak dapat lagi disebut sinonim.
3)      Suatu kata, apabiala ditijau berdasarkan makna kognitif, makna emotif, maupun makna evaluatif, mungkin saja akhirnya menunjukan adanya karakteristik sendiri meskipun dalam pemakaian sehari-harisemula dianggap memiliki kesinoniman dengan kata lainya. Bentuk demikian misalnya dapat ditemukan dalam pasangan kata ilmu dan pengetahuan, mengamati dan meneliti, serta antara megusap dengan membelai. Apabila hal itu terjadi, maka kata-kata yang semula dianggap sinonim itu harus dianggap sebagai kata yang berdiri sendiri-sendiri.
4)      Suatu kata yang semula memiliki nkolokasi sangat ketat, miasalnay antara kopi dengan minuman, kuncup dengan kembang, maupun pohon dengan batang, sering kali dipakai secara tumpang tindih karena masing-masing memiliki kesinoniman. Hal itu tentu saja tidak benar karena masing-masing kata tersebut jelas masih memiliki ciri makna sendiri-sendiri. Sebab itu, pemakaian yang tumapang tidih dapat mengakibatkan adanya salah pengrertian.
Akibat kekurangan terhadap nilai makna sutau kata maupun kelompok kata, sering kali bentuk kebahasaan yang berbeda-beda begitu saja dianggap sinonim, misalnaya antara bentuk kembali kepangkuan illahi dengan meninggalkan dunia kehidupan, antara merencanakan dengan menginginkan, serta antara gambaran dengan bayangan.
    1. Perbedaan antara sinonim sempurna dan sinonim absolut di dalam kalimat
Perbedaan antara keduanya terlihat sekali jika telah menjadi kalimat. Perbedaan itu dapat terlihat dengan jelas dalam kalimat sebagai berikut: Contoh kata hamil dan kata bunting. Kedua kata ini mengandung makna yang sama, tetapi pemakaiannya berbeda. Pemakaian kedua kata ini bergantung pada pembicara dan orang yang diperbicarakan. Tambah pula kata hamil lebih halus pemakaian jika dibandingkan dengan kata bunting. Kita dapat mengatakan “sapi yang sudah hamil”. Atau “sapi saya sudah bunting”. Tetapi sagat janggal apabila orang mengatakan ‘istri bupati telah bunting”. Disini sebenarnya citra tidak terlalu berhubungan dengan wilayah semantik, tetapi hal itu menunjukan kepada kita tentang persamaan dan perbedaan makna suatu kata. Sebagai contohnya yang lain dalam kalimat “kami berusaha agar pembagunan berjalan terus”, “kami berupaya agar pembangunan berjalan terus”. Kata berusaha bersisonim dengan kata berupaya.
Suatu kata dikatakan bersinonim secara sempurna apabila kata-kata tersebut mengandung makna deskriftif, ekspresif, dan sosial yang sama, sedangkan suatu kata disebut bersinonim secara absolut apabila kata-kata tersebut mempunyai distribusi yang sama dan bermakna secara sempurna didalam kehadirannya pada semua konteks.
Yang menjadi permasalahan disini adalah kata hamil dan bunting termasuk ke dalam sinonim sempurna yang secara ekspresif dapat menerangkan secara jelas apa yang dimaksud oleh pembicara. Sedangkan, kata berusaha dan berupaya termasuk ke dalam kelompok sinonim absolute karena kata-kata tersebut mempunyai distribusi yang sama dan bermakna secara sempurna didalam kehadirannya pada semua konteks.

C.    Penutup
Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa sinonim adalah kata-kata yang mengandung makna pusat yang sama tetapi berbeda dalam nilai rasa. Atau secara singkat  sinonim adalah kata-kata yang mempunyai denotasi yang sama tetapi berbeda dalam konotasi. Selain itu ada ungkapan lain yang menjelaskan mengenai sinonimi berarti ‘nama lain untuk benda atau hal yang sama’. Secara semantik Verhaar (1978) mendefinisikan sebagai ungkapan (bisa berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan lain.
Sinonim dan sinonimi pada dasarnya sama yaitu membahas mengenai persamaan kata. Disini selain membahas itu penulis mencoba untuk menggali lebih jauh perbedaan antara Suatu kata dikatakan bersinonim secara sempurna apabila kata-kata tersebut mengandung makna deskriftif, ekspresif, dan sosial yang sama, sedangkan suatu kata disebut bersinonim secara absolut apabila kata-kata tersebut mempunyai distribusi yang sama dan bermakna secara sempurna didalam kehadirannya pada semua konteks.












DAFTAR PUSTAKA

 Tarigan, Henry Guntur. 1993. Pengajaran Semantik. Bandung: Angkasa
Aminuddin. 1988. Semantik  Pengantar Studi Tentang Makna. Bandung: C.V. Sinar Baru
Pateda, Mansoer. 2001. Semantik leksikal. Jakarta: Rineka Cipta
Djajasudarma, Fatimah T. 1999. Semantik I pengantar ke arah  ilmu makna. Bandung: PT. Refika Aditama.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar