Selasa, 29 Maret 2011

Makna Konseptual dan Makna Asosiatif


Makna Konseptual dan Makna Asosiatif

Pembedaan makna konseptual dan makna asosiatif didasarkan pada ada atau tidak hubungan (asosiasi, refleksi) makna sebuah kata dengan makana latin.  Makna konseptual adalah makna yang sesuai dengan konsepnya, makna yang sesuai dengan refrerennya, dan makna yang bebas dari asosiasi atau hubungan apapun. Jadi, makna konseptual ini sama dengan makna refrensial, makna leksikal, dan mkna denotatif. Sedangkan makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan keadaan diluar bahasa. Misalnya, kata melati berasosiasi dengan makna ‘suci’, atau ‘kesucian’ .
Makna asosiatif ini sesungguhnya sama dengan perlambang-perlambang  yang digunakan oleh suatu masyarakat bahasa untuk menyatakan suatu konsep lain. Disamping itu ke dalamnya termasuk juga makna-makna lain seperti makna stilistika, makna afektif dan makna kolokatif (Leech 1976).
Makna stilistika berkenaan dengan gaya pemilihan kata sehubungan dengan adanya perbedaansosial dan bidang kegiatan di dalam masyarakat. Karena itulah dibedakan makna kata rumah, pondok, istana, keraton, kediaman, tempat tinggal, dan residensi. Begitu juga di bedakan makna kata guru, dosen, pengajar, dan instruktur.
Makna afektif berkenaan dengan perasaan pembicarapemakai bahasa secara pribadi, baik terhadap lawan bicara maupun terhadap objek yang di bicarakan.
Makna kolokatif berkenaan dengan kata dalam kaitannya dengan makna kata lain yang mempunyai ‘tempat ” yang sama dalamsebuah frase (ko= sama, bersama; lokasi=tempat). Gadis itu cantik; bung itu indah; kita tidak dapat mengatakan *gadis itu tampan; * bunga itu molek, dan * pemuda itu cantik.

Makna idiomatikal dan peribahasa
Idiom adalah satu-satunya bahasa (bisa berupa kata, frase, maupun kalimat) yang maknanya tidak  dapat ‘diramalkan ’ dari maknaleksikal unsur-unsurnya maupun makna  gramatikal satuan-satuan tersebut. Makna idom tidak lagi berkaitan dengan makna leksikal atau makna gramatikal unsur-unsurnya maka bentuk-bentuk idiom ini ada juga yang menyebutkan sebagai satuan-satuan leksikal tersendiri yang maknanya juga merupakan makna leksikal dari satuan tersebut.
Perlu diketahui juga adanya dua macam bentuk idiom dalam bahasa indonesia yaitu: idiom penuh dan idiom sebagian. Idiom penuh adalah idiom yang unsur-unsurnya secara keseluruhan sudah merupakan satu kesatuan dengan satu makna, seperti contoh membanting tulang , menjual gigi, dan meja hijau di atas. Sedang pada idiom sebagian masih ada unsur yang memiliki makna leksikal sendiri, misalnya daftar hitam yang berarti ‘daftar yang berisi nama-nama orang yang di curigai/ dianggap bersalah’.
Dari uaraian di atas dapat disimpulkan  bahwa makna idiomatikal adalah makna sebuah satuan bahasa (entah kata, frase, atau kalimat) yang “menyimpang” dari makna leksikalau makna gramatikal unsur-unsur pembentuknya. Untuk mengetahui makna idiom sebuah kata (frase atau kalimat) tidak ada jalan lain selain mencarinya di dalam kamus.
Sedikit penjelasan mengenai penjelasanpenggunaan istilah idigom, ungkapan, dan metafora. Ketiga istilah ini sebenarnya mencakup objek pembicaraan yang kurang lebih sama. Hanya segi pandangannya yang berlainan. Idigom dilihat dari segi makna, yaitu “menyimpang” makna ini dari makna leksikal dan makna gramatikal unsur-unsur pembentuknya. Ungkapan dilihat dari segi ekspresi kebahasaan, yaitu dalam usaha penutur untuk menyampaikan pikiran, perasaan, emosinya dalam bentuk-bentuk satuan bahasa tertentu yang dianggap paling tepat dan paling kena. Sedangkan metefora dilihat dari segi digunakannya sesuatu untuk memerbandingkan yang lainumpamanya mataharidikatakan atau diperbandingkan sebagai raja siang, bulan dikatakan sebagai putri malam, dan pahlawan dikatakan sebagai bunga bangsa, ini termasuk contoh idigom.
Berbeda dengan idigom, terutama idigom penuh, yang maknanya dapat diramalkan, baik secara leksikal maupun gramatikal (makna pribahasa masih dapat diramalkan karena adnya asosiasi atau tautan antara makna leksikal dan gramatikal unsur-unsur pembentuk pribahasa itu dengan makna lain yang menjadi tautannya. Karena pribahasa ini bersifat memperbandingkan atau mengumpamakan maka lazim juga disebutdengan nama perumpamaan. Misalnya, Tong kosong nyaring bunyinya. Pribahasa terebut bermakna’orang yang tiada berilmu biasanya banyak cakapnya’. Di sini orang yang tiada berilmu itu diperbandingkan dengan tong yang kosong. Hanya tong yang kosong yang kalau di pukul akan berbunyi nyaring, tong yang berisi penuh tentu tiada akan berbunyi nyaring.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar