Senin, 14 Maret 2011

PESONA ALAM GOA JATIJAJAR KEBUMEN, JAWA TENGAH


PESONA ALAM GOA JATIJAJAR
KEBUMEN, JAWA TENGAH

uad warna.jpg


Travel Feature ini diajukan untuk memenuhi tugas
mata kuliah Ragam Bahasa Jurnalistik
kelas C yang disusun oleh:


CRISPINA PUTRIYANINGSIH
08003252


PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
YOGYAKARTA
2010
PESONA ALAM GOA JATIJAJAR
KEBUMEN, JAWA TENGAH

1.      Goa Jatijajar


Goa Jatijajar adalah Goa Alam kapur yang sangat tua, terletak di desa Jatijajar, Kecamatan Ayah, Kabupaten Dati II Kebumen 23 km Selatan Gombong atau 42 km ke barat dari Kebumen jawa tengah. Goa Jatijajar berada di kaki pegunungan kapur. Objek wisata ini sungguh sangat menarik. Pegunungan kapur ini memanjang dari utara dan ujungnya di selatan menjorok ke laut berupa sebuah tanjung. Sebagai objek wisata andalan, Goa Jatijajar memiliki daya tarik luar biasa bagi calon wisatawan baik domestik maupun mancanegara dan untuk wilayah Kebumen, objek wisata ini paling banyak dikunjungi oleh wisatawan.
Para pemandu wisata di sekitar gua langsung menghampiri ketika para wisatawan menginjakkan kaki di mulut goa. Mereka menceritakan setiap detail lokasi yang wisatawan lalui. Goa ini terbentuk dari batu kapur dan dulunya ditemukan oleh Djajamenawi, seorang petani yang memiliki tanah di atas gua tersebut pada tahun 1802. Ia terjatuh ke suatu lubang, ternyata lubang itu adalah lubang ventilasi dari langit-langit gua tersebut. Lubang ini mempunyai garis tengah 4 meter dan tinggi lubang 24 meter.
Goa Jatijajar mempunyai panjang dari pintu masuk ke pintu keluar sepanjang 250 meter. Lebar rata-rata 15 meter, dan tinggi rata-rata 12 meter, sedangkan ketebalan langit-langit rata-rata 10 meter, dan ketinggian dari permukaan laut 50 meter. Mulut Goa yang tinggi dan lebar ini menyingkapkan lapisan batu gamping pejal yang kompak dan keras. Pada dinding masuk sebelah kanan tersingkap sisa endapan sedimen goa yang banyak mengandung fosil moluska. Beberapa spesies grastropoda dan pelecypoda terawetkan pada lapisan lempung pasiran berwarna coklat tua. Beberapa meter dari pintu masuk goa, tersingkap sedimen pada sebuah sisa kanopi tua. Kanopi di dalam goa ini menunjukkan sisa keaktifan sungai bawah tanah beberapa ratus ribu tahun yang lalu. Sungai bawah tanah yang masih aktif di dalam gua tersingkap melalui beberapa lubang yang terletak antara 1-3 meter di bawah lorong fosil utama.
Pada 1975 Goa Jatijajar mulai dibangun dan dikembangkan menjadi obyek wisata. Kini di dalam goa, selain diorama juga sudah terpasang lampu listrik sebagai penerangan, dan undak-undakan beton untuk memudahkan para wisatawan masuk ke dalam Gua. Hingga kini Gua Jatijajar masih menjadi primadona.

2.      Sejarah Goa jatijajar

Pada mulanya pintu-pintu Goa masih tertutup oleh tanah. Maka setelah tanah yang menutupi dibongkar dan dibuang, ketemulah pintu Goa yang sekarang untuk masuk. Karena dimuka pintu Goa ada 2 pohon jati yang besar tumbuh sejajar, maka goa tersebut diberi nama Goa Jatijajar.
Goa ini terbentuk dari batu kapur dan telah diketemukan oleh seorang petani yang memiliki tanah diatas Goa tersebut pada tahun 1802 yang Bernama “Jayamenawi”. Pada suatu ketika Jayamenawi sedang mengambil rumput, kemudian jatuh kesebuah lobang, ternyata lobang itu adalah sebuah lobang ventilasi yang ada di langit-langit Goa tersebut. Lobang ini mempunyai garis tengah 4 meter dan tinggi dari tanah yang berada dibawahnya 24 meter.
Di dalam Goa Jatijajar terdapat 7 (tujuh) sungai atau sendang, tetapi yang dapat dicapai dengan mudah hanya 4 (empat) sungai yaitu :
1.Sungai Puser Bumi
2.Sungai Jombor
3.Sungai Mawar
4.Sungai Kantil
Tiap-tiap sungai/sendang mempunyai mitos, yaitu :
Untuk sungai Puser Bumi dan Jombor konon airnya mempunyai khasiat dapat digunakan untuk segala macam tujuan menurut kepercayaan masing-masing. Sedangkan Sungai Mawar konon airnya jika untuk mandi atau mencuci muka, mempunyai khasiat bisa awet muda. Adapun Sendang kantil jika airnya untuk cuci muka atau mandi, maka niat/cita-citanya akan mudah tercapai.
Pada saat ini yang telah dibangun baru Sendang Mawar dan Sendang Kantil, Sedangkan Sendang Jombor dan Sendang Puser Bumi masih alami dan masih belum ada penerangan serta licin.
Di dalam Goa Jatijajar banyak terdapat Stalagmit dan juga Pilar atau Tiang Kapur, yaitu pertemuan antara Stalagtit dengan Stalagmit. Kesemuanya ini terbentuk dari endapan tetesan air hujan yang sudah bereaksi dengan batu-batu kapur yang ditembusnya. Menurut penelitian para ahli, untuk pembentukan Stalagtit itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Dalam satu tahun terbentuknya Stalagtit paling tebal hanya setebal 1 (satu) cm saja. Oleh sebab itu Goa Jatijajar merupakan Goa Kapur yang sudah tua sekali.
Batu-batuan yang ada di Goa Jatijajar merupakan batuan yang sudah tua sekali. Karena umur yang sudah tua sekali itu, maka di muka Goa Jatijajar dibangun sebuah patung Binatang Purba Dino Saurus sebagai simbol dari Objek Wisata Goa Jatijajar, dari mulut patung itu keluar air dari Sendang Kantil dan sendang Mawar, yang sepanjang tahun belum pernah kering. Sedangkan air yang keluar dari patung Dino Saurus tersebut dimanfaatkan oleh penduduk sekitar sebagai pengairan sawah desa Jatijajar dan sekitarnya.
Adapun Goa Jatijajar mempunyai panjang dari pintu masuk ke pintu keluar sepanjang 250 meter. Lebar rata-rata 15 meter dan tinggi rata-rata 12 meter sedangkan ketebalan langit-langit rata-rata 10 meter, dan ketingian dari permukaan laut 50 meter.
Sebelum Goa Jatijajar dibangun sebagai Objek Wisata, dahulu dikelola oleh juru kunci. Adapun silsilah juru kunci yang pernah mengelola Goa Jtijajar, yaitu :
1.      Juru Kunci Ke I – Jayamenawi
2.      Juru Kunci Ke II – Bangsatirta
3.      Juru Kunci Ke III – Manreja
4.      Juru Kunci Ke IV – Jayawikrama
5.      Juru Kunci Ke V – Sandikrama
Pada tahun 1975 Goa Jatijajar mulai dibangun dan dikembangkan menjadi Objek Wisata. Adapun yang mempunyai ide untuk mengembangkan atau membangun Goa Jatijajar yaitu Bapak Suparjo Rustam sewaktu menjadi Gubernur Jawa Tengah. Sedang pada waktu itu yang menjadi Bupati Kebumen adalah Bapak Supeno Suryodiprojo.
Untuk melancarkan dan melaksanakan pengembangan Goa Jatijajar ditunjuk langsung oleh Bapak Suparjo Rustam cv.AIS dari Yogyakarta, sebagai pimpinan dari cv.AIS adalah Bapak Saptoto, seorang seniman deorama yang terkenal di Indonesia. Sebelum Pemda Kebumen melaksanakan pembagunan Goa Jatijajar, terlebih dahulu Pemda Kebumen telah mengganti rugi tanah penduduk yang terkena lokasi pembangunan Objek Wisata Goa Jatijajar Seluas 5,5 hektar.
Setelah Goa Jatijajar dibangun maka pengelolanya dikelola oleh Pemda Kebumen. Sejak Goa Jatijajar dibangun, di dalam Goa Jatijajar sudah ditambah dengan bangunan-bangunan seni antara lain: pemasangan lampu listrik sebagai penerangan, trap-trap beton untuk memberikan kemudahan bagi para wisatawan yang masuk ke dalam Goa Jatijajar serta pemasangan patung-patung atau deorama.



3.      Pesona Alam Goa Jatijajar
Pesona alam yang ditawarkan dan yang ada di sekitar goa jatijajar antara lain sebagai berikut:

a.      Simbol Objek Wisata Gua Jatijajar


Sebagai simbol Objek Wisata Gua Jatijajar di muka gua telah dibuat patung binatang purba Dinosaurus. Dari mulut patung ini keluar air dari Sendang Mawar dan Sendang Kantil yang dimanfaatkan oleh penduduk sebagai sumber pengairan sawah desa Jatijajar dan sekitarnya. Masyarakat percaya bahwa air tersebut mempunyai khasiat dapat menyuburkan tanah sawah yang mereka tanami, sehingga air dari dalam gua ini dimanfaatkan untuk mengairi area pesawahan mereka.

b.      Sendang di dalam Goa Jatijajar


Sendang diketahui berada di dalam Gua Jatijajar ada 7 sendang. Dari 7 sendang itu diantaranya 4 gua yang airnya dipercaya berkhasiat untuk mencapai tujuan tertentu dan dibuka untuk umum yaitu :

                                      i.      Sendang Kantil.
Di dasar Sendang Kantil terdapat sifon yang dapat ditelusuri dengan metoda penyelaman (cave diving). Air dari sendang ini apabila dipakai untuk mandi atau mencuci muka dipercaya akan dapat mempermudah mencapai cita-cita/tujuan.

                                    ii.      Sendang Mawar.
Air dari sendang ini apabila dipakai untuk mandi atau mencuci muka dipercaya berkhasiat bisa awet muda. Sendang Kantil dan Mawar telah dibangun sehingga mudah dijangkau oleh para wisatawan baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara.

                                  iii.      Sendang Jombor
Sendang Jombor dihuni oleh seekor pelus sepanjang 1 m dan dikeramatkan sehingga untuk memasukinya harus mendapat ijin terlebih dahulu dari pengelola Gua.

                                  iv.      Sendang Puserbumi
Sendang Puserbumi merupakan sebuah sumuran tegak bergaris tengah sekitar 50 cm. Alirannya langsung ke luar ke permukaan di luar gua. Sebagaimana Sendang Jombor, Sendang Puserbumi juga sangat dikeramatkan dan dijadikan tempat berziarah dengan menaruh sesaji untuk memohon keinginannya. Untuk memasuki sendang ini para wisatawan juga harus mendapat ijin terlebih dahulu dari pengelola Gua.
Sendang Jombor dan Puserbumi masih alami, belum dibangun sehingga masih gelap, belum ada penerangan dan jalannya licin. Adanya kepercayaan masyarakat akan khasiat dari sungai-sungai yang ada di dalam goa ini merupakan daya tarik tersendiri bagi calon wisatawan untuk mengunjungi Gua Jatijajar.





c.       Pesona Stalagtit - Stalagmit Goa Jatijajar


Di dalam Gua Jatijajar banyak terdapat Stalagmit dan juga pilar atau tiang kapur, yaitu pertemuan antara Stalaktit dengan Stalagmit. Kesemuanya ini terbentuk dari endapan tetesan air hujan yang sudah bereaksi dengan batu-batu kapur yang ditembusnya. Sistem pergunaan berkembang pada lapisan batu gamping yang berumur miosen tengah. Di dalam gua dapat dijumpai fosil-fosil seperti Lepidocyclina sumatrensis Brady, L. elegans Tan dan Cycloclypeus annulatus Martin. Fosil-fosil tersebut menunjukkan umur batuan, juga sekaligus mencirikan lingkungan asalnya, yaitu laut dangkal yang mempunyai kedalaman 60 meter.
Menurut penelitian para ahli, untuk pembentukan Stalagtit itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Dalam satu tahun terbentuknya Stalagtit paling tebal hanya setebal 1 (satu) cm saja. Oleh sebab itu Goa Jatijajar merupakan Goa Kapur yang sudah tua sekali.


Batu-batuan yang ada di Goa Jatijajar merupakan bebatuan yang sudah tua sekali. Karena umur yang sudah tua sekali itu, maka di muka Goa Jatijajar dibangun sebuah patung Binatang Purba dinosaurus sebagai simbol dari Objek Wisata Goa Jatijajar, serta sebagai simbol kepurbakalaan dari mulut patung itu keluar air dari Sendang Kantil dan sendang Mawar, yang sepanjang tahun belum pernah kering. Sedangkan air yang keluar dari patung Dino Saurus tersebut dimanfaatkan oleh penduduk sekitar sebagai pengairan sawah desa Jatijajar dan sekitarnya.
Karena sifat bumi yang dinamis, laut dangkal tersebut terangkat sampai ketinggian sekarang. Gejala endokarst Gua Jatijajar dapat dilihat dengan adanya pembentukan kanopi yang menunjukkan adanya sungai bawah tanah yang pernah aktif. Proses pengangkatan menyebabkan sungai menjadi kering. Karena air mencari permukaan yang lebih rendah, maka sungai bawah tanah yang aktif dapat dijumpai hingga kini, seperti Sendang Puserbumi, Jombor, Mawar, dan Kantil.

d.      Diorama dalam Goa Jatijajar

Selain itu sejak Gua Jatijajar dibangun, telah ditambah pemasangan patung-patung atau Deorama. Pemasangan deorama di dalam gua ini menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan. Diorama yang di pasang dan dalam Goa Jatijajar ada 8 (delapan) deorama, yang patung-patungnya ada 32 buah. Keseluruhannya mengisahkan cerita Legenda dari “Raden Kamandaka – Lutung Kasarung”. Adapun kaitannya dengan Goa Jatijajar ialah, dahulu kala Goa Jatijajar pernah digunakan untuk bertapa oleh Raden Kamandaka Putera Mahkota dari Kerajaan Pajajaran, yang bernama aslinya Banyak Cokro atau Banyak Cakra.
Perlu diketahui bahwa jaman dahulu sebagian dari wilayah Kabupaten Kebumen, adalah termasuk wilayah kekuasaan Pajajaran, yang pusat pemerintahannya di Bogor (Batutulis) Jawa Barat. Adapun batasnya yaitu Kali Lukulo dari Kabupaten Kebumen sebelah Timur Kali Lukulo masuk ke wilayah Kerajaan Mojopahit, sedangkan sebelah barat Kali Lukulo masuk wilayah Kerajaan Pajajaran. Sedangkan terjadinya cerita itu di kabupaten Pasir Luhur, yaitu di daerah Baturaden atau Purwokerto pada abad ke-14. Namun keseluruhan Deoramanya dipasang di dalam Goa Jatijajar.
Ada keistimewaan di obyek wisata Gua Jatijajar, yaitu terdapat sebuah patung dinosaurus sebagai simbol penting dari gua ini yang terletak di area depan lokasi Gua Jatijajar.
Pengunjung yang masuk ke dalam gua otomatis akan melewati mulut patung dinosaurus ini. Patung ini terlihat mengeluarkan air, sebagai muara dari mata air yang ada di dalam gua, yaitu dari Sendang (Sungai) Kantil dan Sendang Mawar. Air ini diyakini tidak akan habis, meski dalam kondisi cuaca kemarau sekalipun. Air ini digunakan oleh penduduk sekitar Gua Jatijajar sebagai pengairan sawah-sawah mereka.


Ketika menyusuri ruang gua lebih ke dalam lagi, pengunjung akan melihat ada banyak pemandangan yang begitu indah. Ruangan di dalam gua ini diterangi dengan banyak lampu, mulai dari arah masuk hingga ke luar, sehingga pengunjung tidak perlu risau dengan kondisi penerangan di sana. Di bagian langit-langit gua terdapat sebuah lubang sebagai ventilasi gua. Di tengah-tengah ruangan terdapat kursi melingkar yang dapat digunakan sebagai tempat duduk pengunjung yang ingin istirahat, sambil melihat-lihat sekeliling ruangan dalam gua.
Pengunjung bisa melihat banyak ornamen stalagtit, stalagmit, dan tiang kapur (sebagai pertemuan antara stalagtit dan stalagmit). Pengunjung kemudian dapat melanjutkan perjalanan dengan cara menuruni tangga yang merupakan bagian dari ekor patung dinosaurus. Di ruang bawah terdapat beberapa sungai bawah tanah (sendang) yang masih aktif. Sungai-sungai itu merupakan salah satu keistimewaan Gua Jatijajar. Tercatat ada empat sendang (menurut sumber lain ada tujuh sendang, tapi data yang bisa diperoleh hanya ada empat saja), yaitu Sendang Mawar, Sendang Kantil, Sendang Jombor, dan Sendang Puser Bumi.
Aliran air di Sendang Mawar melewati lubang sempit yang menembus hingga ke luar gua. Demikian halnya dengan aliran air Sendang Kantil. Konon katanya, jika pengunjung bisa mendekati dan membasuh muka dengan air di Sendang Mawar, maka ia akan awet muda. Ada pula kepercayaan bahwa jika seseorang membasuh muka atau mandi dengan air Sedang Kantil, maka niat atau cita-citanya akan cepat terkabul. Sementara itu, oleh pihak pengelola obyek wisata Gua Jatijajar, Sendang Jombor dan Sendang Puser Bumi sengaja dikeramatkan. Jika ingin menelusuri lorong gua melalui dua sendang tersebut, pengunjung harus mendapat ijin yang sangat ketat dari pihak pengelola.
Setelah berpuas-puas berkeliling di dalam goa, begitu keluar pengunjung juga bisa menikmati berbagai souvenir dan jajanan khasnya. Boleh jadi, soevenir itu bisa sebagai tanda mata jika kita pernah berkunjung ke goa Jatijajar.

4.      Atraksi Wisata goa jatijajar


Kesenian daerah yang berkembang di sekitar wilayah Gua Jatijajar diantaranya adalah Kuda Lumping, Tari Lawet, Wayang Kulit dan Seni Calung.
5.      Potensi Wisata Pendukung
Unsur wisata pendukung yang digali dari adat, tradisi dan kebudayaan yang berkembang di masyarakat Kebumen, diantaranya adalah :
-        Upacara ritual pengambilan sarang burung walet di tengah Karangbolong.
-        Benteng pertahanan Jepang.
-        Industri keramik Jatisari, pembuatan genteng dan batubata di Sokka.
-        Industri anyaman pandan di Grenggeng.
-        Makanan dan minuman khas daerah (tempe, mendoan, sate ambal, nira).
-        Festival layang-layang internasional yang diselenggarakan secara rutin.
-        Wisatawan yang melakukan perjalanan geowisata ke daerah Kebumen dapat memanfaatkan objek-objek tersebut sebagai acara tambahan.

6.      Potensi dan Kegiatan Produktif Masyarakat Sekitar Objek Wisata Gua Jatijajar
Keberadaan Objek Wisata Gua Jatijajar berimbas pada berkembangnya kegiatan produktif masyarakat di sekitarnya, karena terbukanya peluang usaha dalam bidang :
-        Perdagangan, dengan berdirinya kios-kios di dalam objek wisata Gua Jatijajar Kerajinan/cendera mata, seperti anyaman pandan, batik tulis, keramik tanah liat dan batu aji
-        Makanan khas, seperti Sate ayam ambal, Nasi Penggel, Soto petahanan, Lanting, Emping, Gula Jawa, Jenang.
-        Akomodasi/penginapan
-        Pramuwisata/pemandu.
-        Usaha jasa foto

7.      Model Pemberdayaan Masyarakat Sekitar Objek Wisata Gua Jatijajar
Pembangunan pariwisata sebagai sektor andalan dan unggulan berkaitan dengan peranan dari berbagai pihak. Pemberdayaan masyarakat menjadi kunci utama kesuksesan pelaksanaan program pembangunan dan pengembangan potensi pariwisata. Dalam rangka pemberdayaan ini dibutuhkan model-model pemberdayaan yang sesuai dengan karakteristik masyarakat sekitar lokasi pariwisata, dalam hal ini adalah masyarakat di sekitar Goa Jatijajar. Berikut ini beberapa model pemberdayaan masyarakat yang dapat dikembangkan di sekitar wilayah Goa Jatijajar.
a.      Model Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Sistem Pengetahuan dan kepercayaan
Masyarakat di sekitar Goa Jatijajar memiliki pengetahuan tentang sejarah Goa Jatijajar yang dikaitkan dengan folklor Satria Kamandaka dan potensi alam di sekitar Goa. Pengetahuan in didapat sejak kecil secara turun temurun dari generasi ke generasi. Dengan pengetahuan ini, masyarakat sekitar dapat menyebarluaskan pengetahuannya kepada wisatawan dan calon wisatawan. Pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat tersebut, memunculkan bermacam-macam motif yang mengarahkan pada perilaku sebagai berikut :
-        Pada masyarakat petani, menjadikan air yang bersumber dari sendang yang terdapat di dalam Gua Jatijajar sebagai sumber pengairan untuk sawah-sawah di sekitar Gua.
-        Pada masyarakat pedagang, potensi wisata tersebut membuka peluang usaha di berbagai sektor, seperti kerajinan, makanan khas, rumah makan dan lainnya;
-        Bagi pemerintah sendiri, pengetahuan tentang potensi yang terdapat pada kawasan Gua Jatijajar mendorong kebijakan dalam alih kelola Objek Wisata Gua Jatijajar yang sebelumnya dikelola oleh masyarakat secara konvensional. Pengelolaan yang diawali dengan pemugaran Gua Jatijajar disebabkan atas potensi wilayah tersebut sebagai daerah tujuan wisata yang mampu menjadi salah satu penghasil devisa, guna meningkatkan pendapatan daerah, mendorong pertumbuhan ekonomi, memperluas lapangan kerja dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan tetap melestarikan alam dan memelihara nilai-nilai budaya.

b.      Model Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat
Potensi lokal Gua Jatijajar telah berkembang menjadi potensi wisata yang mengakibatkan peningkatan arus wisatawan baik mancanegara maupun nusantara ke kawasan wisata Gua Jatijajar, tentu saja menuntut bermacam-macam pelayanan dan fasilitas yang semakin meningkat jumlah dan ragamnya. Hal ini memberi manfaat ekonomi bagi penduduk, pengusaha maupun pemerintah setempat, seperti : Kesempatan berusaha, baik usaha yang langsung untuk memenuhi kebutuhan wisatawan maupun yang tidak langsung. Lapangan usaha langsung meliputi usaha akomodasi (hotel, homestay, penginapan), restoran/rumah makan, biro perjalanan, toko souvenir, sanggar-sanggar kerajinan dan kesenian, pramuwisata dsb. Lapangan usaha tidak langsung, seperti : pertanian, perikanan, peternakan, perindustrian dan kerajinan dan lainnya.
Terbukanya lapangan kerja. Luasnya kesempatan dalam usaha berarti akan membuka lapangan kerja, baik lapangan kerja di berbagai usaha yang langsung memenuhi kebutuhan wisatawan maupun tidak langsung. Meningkatnya pendapatan masyarakat dan pemerintah
Mendorong pembangunan daerah. Berkembangnya kepariwisataan di daerah mendorong pemerintah daerah dan masyarakat mempersiapkan dan membangun prasarana yang diperlukan seperti : pembangunan dan perbaikan jalan, instalasi air dan listrik, pembenahan obyek dan daya tarik wisata,perbaikan lingkungan, pengkondisian masyarakat dan sebagainya.
Sebenarnya di sekiar Gua Jatijajar masih banyak gua-gua lainnya yang dapat dijadikan objek wisata, sehingga Kebumen semestinya dapat mengembangkan Objek Wisata Gua.

8.      Travel tips bagi calon wisatawan goa jatijajar
Untuk menikmati isi dari Gua Jatijajar ini, tidaklah membutuhkan keahlian tinggi dan mesti dilengkapi dengan peralatan caving yang lengkap. Didalam gua ini telah dipasang berbagai lampu warna-warni yang akan menambah kesan tersendiri saat menikmatinya. Tidak hanya instalasi penerangan, didalam gua ini juga telah diisi dengan berbagai patung seukuran manusia yang menceritakan kisah Raden Kamandaka atau yang lebih dikenal dengan kisah Lutung Kasarung. Patung-patung ini berwarna putih bersih dan diletakkan berkelompok-kelompok pada berbagai sudut gua mewakili suatu fragmen cerita. Sayangnya tidak adanya brosur yang lengkap pada objek ini mengakibatkan pengunjung yang tidak mengetahui cerita Lutung Kasarung, kurang bisa menikmati atau mengerti tentang fragmen apa yang sedang diceritakan oleh patung-patung tersebut. Ada baiknya saat menikmati isi gua ini, pengunjung didampingi dengan pemandu wisata sehingga bisa tahu dan menikmati isi gua secara lebih lengkap.
Didalam gua juga telah dibuatkan jalur jalan yang terbuat dari semen. Pada bagian jalan yang menurun maupun mendaki juga telah dibuatkan anak tangga lengkap dengan pegangannya yang terbuat dari besi. Disisi kiri dan kanan jalan pada jarak tertentu juga telah dipasang lampu penenrangan, yang kesemuanya  ini tentunya akan semakin memudahkan pengunjung untuk menjelajah seluruh isi gua. Gua ini juga masih memiliki banyak lubang keluar pada bagian atasnya, sinar matahari yang menerobos masuk kedalam gua memberikan kesan indah tersendiri saat dinikmati.
Selain itu untuk sampai ke Taman Wisata Gua Jatijajar, tidaklah terlalu sulit. Apabila Anda naik kendaraan umum, ambillah jurusan Gombong-Jatijajar. Jika ingin menginap, di sekitar lokasi terdapat hotel melati dan homestay dengan tarif terjangkau. Di dalam area wisata juga terdapat Pasar Seni, yang menyediakan berbagai kerajinan tangan dan makanan yg dapat Anda beli sebagai oleh-oleh dengan harga yg cukup murah.
Disarankan kepada pemerintah setempat sebagai pengelola agar menyediakan pelengkapan sarana serta prasarana yang memadai bagi para wisatawan agar wisatawan dengan mudah mendapatkan informasi apa yang ingin mereka ketahui.





































LAMPIRAN

















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar